.::. Galeh Aji Wedding Organizer .::.

Paket Pernikahan Yogyakarta || Paket Pernikahan Murah Yogyakarta

Banyaknya kasus perceraian beberapa tahun terakhir ini membuat orang skeptis dengan lembaga pernikahan. Buat apa menikah kalau akhirnya ...

Bahagianya Menikah dan Berkeluarga




Banyaknya kasus perceraian beberapa tahun terakhir ini membuat orang skeptis dengan lembaga pernikahan. Buat apa menikah kalau akhirnya bercerai? Anggapan ini harus segera ditepis karena nyatanya, menikah itu justru menyehatkan.

Jangan buru-buru mencibir lembaga pernikahan. Sebelum mencibir dan bersikap skeptis, ada baiknya berpikir kembali soal ikatan pernikahan. Nyatanya, pernikahan yang dibangun dan dibina dengan baik akan membuat Anda lebih sehat dan lebih bahagia.

Eits, pernyataan tersebut bukan omong kosong belaka. Hal itu setidaknya dikuatkan oleh sebuah studi di Australia. Australian Unity Wellbeing Index 2008, seperti dikutip GoodHealth, menunjukkan bahwa mereka yang menikah memiliki tingkat kesejahteraan paling tinggi.

Dalam studi disebutkan, indeks kesejahteraan pribadi orang yang sudah menikah adalah 77,3. Bandingkan dengan mereka yang tidak pernah menikah, indeksnya 71,5, sementara yang bercerai indeksnya hanya 68,3.

Selain soal indeks kesejahtera¬an yang terbilang tinggi, para ahli melihat hal lain dalam studi ini. Mereka yang berada di usia pertengahan dan tidak memiliki pasangan ternyata rentan dengan tingkat kesejahteraan yang rendah.

Menurut Anne Hollonds, chief executive dari Relationships Australia NSW, pernikahan, secara emosional dan simbolis, tetap berarti bagi banyak orang.

“Membangun kehidupan bersama, membentuk unit keluarga, dan merasa dimengerti oleh pasangan menjadi alasan kuat mengapa pernikahan baik untuk Anda,” katanya.

Untuk mendapat pernikahan yang baik tentu saja diperlukan kerja sama dan penyesuaian di antara kedua belah pihak. Mereka pun diharapkan melakukan sesuatu guna mendapatkan pernikahan yang baik itu.

Kata Hollonds, tidak ada seorang pun bisa hidup dengan seseorang untuk waktu lama tanpa melakukan penyesuaian terhadap ekspektasi mereka dan belajar untuk kompromi atasnya. Jadi, jika Anda merasa bahwa yang diperoleh bersama adalah cukup baik dan Anda bisa menjalani kehidupan yang diinginkan bersama pasangan, berarti dapat dikatakan Anda bahagia.

Namun, bukan berarti mereka yang berbahagia memiliki hubungan yang sempurna. Masalahnya, mereka akan berusaha keras mengelola situasi di mana mereka berada, terutama dalam lingkungannya.

Kebahagiaan lain yang diperoleh pasangan menikah adalah soal hubungan seks. Mereka yang menikah lebih bahagia karena melakukan hubungan seks 30 persen lebih sering dibandingkan dengan yang tidak menikah. Dan mereka menikmati kehidupan seks yang lebih baik.

“Hubungan seks yang baik membutuhkan komunikasi. Hal ini bisa terjadi bila Anda benar-benar mengetahui keinginan dan gairah pasangan, serta merasa aman untuk mengeks¬plorasi dan belajar bersama. Selain itu, berhubungan seks menjadi cara pereda stres yang sangat baik,” papar Karen Morris, chief executive dari Interrelate Family Centres.

Sebenarnya menikah tidak melulu terkait soal seks. Ada hal lain yang juga membuat pasangan menikah lebih sehat.

“Pasangan menikah mengalami perasaan aman dan kebersamaan yang lebih besar. Rasa kesepian mereka juga lebih sedikit,” ujar Morris.

Di sisi lain, pasangan yang menikah melihat perkawinan sebagai sebuah peran untuk merawat dan mendukung satu sama lain secara emosional dan fisik. Mereka lebih cendering mendorong satu sama lain untuk hidup sehat dan tentu saja “memaksa” menemui dokter saat pasangan sakit.

Yang tak kalah penting, seringkali mereka juga berbagi minat dan hobi yang sama. Ini artinya, mereka menjaga pikiran dan tubuhnya tetap aktif. So, let’s get married.


Sumber : Liputan6

Memiliki suami yang tampan dengan harta yang berlimpah, selalu memanjakan anda dan selalu bersikap romantis mungkin itu merupakan i...

Ungkap Fakta Impian Dalam Pernikahan



Memiliki suami yang tampan dengan harta yang berlimpah, selalu memanjakan anda dan selalu bersikap romantis mungkin itu merupakan impian kebanyakan wanita ketika mereka belum menikah. Tetapi sayangnya semua yang telah disebutkan tersebut tidak akan pernah diinginkan lagi oleh para wanita yang sudah menikah, hal tersebut karena kebanyakan wanita yang sudah menikah justru lebih mendambakan beberapa hal dibawah ini.

Saling Menghormati

Anda selalu untuk dicintai, disayangi dan memimpikan beribu kata cinta yang dilontarkan oleh suami anda setiap pagi dan malam, tapi itu dulu sebelum anda menikah. Hal tersebut bukan masalah besar lagi buat wanita menikah karena mereka lebih mendambakan kondisi dimana suami dan istri bisa saling menghormati dan menghargai. Karena dengan saling menghormati dan saling menghargai secara otomasis masing-masing juga akan berusaha untuk saling membahagiakan dan saling mengerti keadaannya masing-masing.


Privacy

Sebelum menikah anda pasti membayangkan akan sangat indah jika anda dan suami selalu bersama dan tidak pernah terpisahkan lagi. Dari mulai makan, mandi, tidur dan semua kegiatan akan selalu bersama-sama. Tetapi itu dulu. Sekarang setelah menikah pasti anda sangat mendambakan dimana anda bisa memiliki pripacy sendiri, bukan untuk menyelingkuhi atau menyembunyikan sesuatu dari suami anda, akan tetapi lebih ke arah anda sangat ingin mengatasi kejenuhan dan kepenatan yang bund arasakan selama menjadi ibu rumah tangga.


Keunikan Dia Dan Anda 

Mungkin saking terobsesinya dengan romantisme ala sinetron, anda akhirnya memimpikan bahwa selama menikah nanti anda akan selalu kompak untuk memakai baju yang berwarna sama, makan dengan jenis makanan yang sama, dan apapun itu anda sangat ingin sekali terlihat kompak untuk menunjukan kebersamaan anda dan suami. Tetapi sayangnya semua hal tersebut hanya keinginan anda belaka, karena setelah menikah justru anda harus menerima beberapa hal yang unik yang meskipun anda tidak suka, tetapi mau tidak mau itu harus ada. Contohnya kebiasaan dia begadang hanya untuk menonton pertandingan sepakbola, kebiasan mendengkur dan beberapa kebiasaan unik lainnya yang mungkin akan terus melekat pada diri suami anda meskipun anda tidak suka.


Jadilah Penyemangat

Jika anda masih ingat pertandingan bola basket beberapa tahun silam ketika anda masih sekolah, anda akan ingat pada cheerleaders yang selalu berteriak-teriak untuk memberikan semangat kepada para pemain. Tetapi bukan berarti anda harus berteriak-teriak juga pada suami anda untuk memberi semangat, melainkan memberi semangat pada si dia dengan pelukan dan senyuman. Karena itulah yang diinginkan suami anda .


Kejujuran

Kita semua tahu bahwa jujur merupakan sebuah kunci dalam setiap hubungan. Maka dari itu, janmgan sampai ada batasan dinding yang tinggi antara anda dan suami. Bagaimanapun juga anda  bersatu untuk saling melengkapi, jika anda tidak jujur, bagaimana mungkin anda dan suami menjadi kesatuan yang saling melengkapi.


Sumber : berbagai sumber


Kabar gembira bagi mereka yang telah menikah. Tanpa disadari memiliki pasangan memiliki dampak positif bagi kesehatan tubuh. Terma...

Menikah Bermanfaat Bagi Kesehatan




Kabar gembira bagi mereka yang telah menikah. Tanpa disadari memiliki pasangan memiliki dampak positif bagi kesehatan tubuh. Termasuk membantu menghindari sejumlah kondisi yang serius terkait kesehatan. 

Ini dia beberapa bonus yang diberikan pada mereka yang telah memiliki suami atau istri :

1. Hidup lebih panjang 

Studi tahun 2013 oleh Duke University Medical Center di Durham menunjukkan mereka yang menikah cenderung hidup lebih lama dibagi orang-orang berusia paruh baya yang masih lajang. Menikah pasalnya membuat seseorang merasa lebih kaya secara emosional, terhubung secara sosial, dan terstimulasi secara mental. Ketiga itu merujuk ke kondisi kesehatan yang lebih baik. 

2. Stres yang lebih rendah

Ya, tentu menikah tak selamanya indah. Ada masa darah mendidih akibat pasangan. Tapi studi dari University of Chicago dan Northwestern University di Evanston menemukan ketika terpapar situasi stres, seperti ujian atau perubahan besar, kadar hormon stres di mereka yang lajang meningkat daripada mereka yang telah menikah. 

Stres pada memicu banyak masalah. Mulai dari berkurangnya imunitas tubuh hingga masalah pencernaan. Peneliti menemukan perkawinan memberi efek meredam hormon stres. Membuat masalah bisa diatasi dengan perasaan hati yang lebih tenang. 

3. Risiko serangan jantung lebih rendah

Studi tahun lalu yang dipublikasikan di European Journal of Preventative Cardiology menemukan orang yang tidak menikah lebih berisiko terkena serangan jantung. Sedang mereka menikah memiliki kecenderungan tak sebanyak mereka yang lajang dalam urusan terkena serangan jantung. 

Peneliti mengira faktor adanya dukungan dari pasangan dan keluarga membuat penyakit jantung jadi lebih mudah terhindari. Apalagi keluarga umumnya akan mengawasi kondisi kesehatan satu sama lain. 

4. Tulang yang lebih kuat

Peneliti di UCLA menemukan perkawinan ada kaitannya dengan angka BMD atau bone mineral density yang lebih baik. Sehingga mengurangi risiko osteorporosis. Perempuan sangat membutuhkan kadar BMD yang tinggi. Riset mengaitkan stres dengan angka BMD yang rendah. Masuk akal bila memiliki pasangan dapat menurunkan kadar stres dan melindungi tulang. 

5. Penyembuhan lebih cepat setelah operasi

Memiliki pasangan tak hanya berguna sebagai memiliki tempat untuk merasa nyaman. Faktor itu bisa memengaruhi hingga hidup dan mati. 

Perkawinan berdasarkan studi dari Emory University di Atlanta dan Rutgers University di Newark, menemukan mereka yang menjalani operasi jantung dan menikah punya kesempatan bertahan lebih lama dari yang lajang. Kenapa begitu? Sebab, mereka dengan pasangan memiliki ikatan emosional dengan orang lain. Memiliki harapan untuk bertahan hidup lebih dibanding yang lajang.

Sumber : Republika 

Semua wanita ingin menikah, tetapi kapan waktunya, siapa yang tahu? Menikah adalah keputusan yang serius, tidak dapat diputuskan han...

Menikah Muda Atau Tunggu Mapan ?



Semua wanita ingin menikah, tetapi kapan waktunya, siapa yang tahu? Menikah adalah keputusan yang serius, tidak dapat diputuskan hanya dalam waktu semalam. Karena itu, diperlukan kesiapan di dalamnya.

Beberapa orang merencanakan bahwa dia akan menikah di usia muda (sekitar 18 - 23 tahun). Sebagian lagi, merencanakan menikah di usia yang matang atau saat kehidupan ekonominya telah mapan. Ada berbagai pertimbangan untuk mengambil kapan waktu pernikahan terbaik.

"Saya memutuskan untuk menikah di usia 20 tahun. Waktu itu, saya yakin bahwa materi bisa dicari. Mumpung masih muda, dan saya sudah serius dengan calon suami, keluarga merestui. Walaupun masih kesulitan membangun materi, tetapi kami bisa membangun rumah tangga sejauh ini, sudah 5 tahun pernikahan saya," - Yasmin, 25 tahun

"Pertimbangan saya untuk menikah, selain cinta, sudah pasti materi. Bukan matre ya! Tapi semua hal butuh dana. Saya dan pasangan butuh makan, saat saya hamil kelak butuh dana, saat punya anak juga butuh dana yang tidak sedikit. Jadi, saya memutuskan untuk mapan terlebih dahulu, agar kehidupan saya setidaknya lebih terjamin dari segi ekonomi," - Ratri, 27 tahun

Itulah sebagian pendapat sahabat kami mengenai keputusan untuk menikah di usia muda atau menunggu mapan secara ekonomi.

Bagaimana pendapat Anda ? Mana yang lebih Anda pilih? Silakan bagi pendapat Anda di kolom komentar.

Sumber : Vemale

Menikah adalah suatu obsesi yang pasti muncul di benak pasangan yang sudah memiliki komitmen serius dalam hubungan mereka. Namun, pad...

Ragu Menjelang Pernikahan ??



Menikah adalah suatu obsesi yang pasti muncul di benak pasangan yang sudah memiliki komitmen serius dalam hubungan mereka. Namun, pada saat melangkah menuju tahapan lebih serius untuk mewujudkan komitmen yang telah terjaga itu, ada kalanya wanita merasa tidak yakin dengan pasangannya. Rasa ragu yang muncul menjelang hari pernikahan biasa dikenal dengan sebutan sindrom pranikah. Rasa ragu ini biasanya muncul akibat ujaran beberapa orang di sekitar. Bisa jadi kalimat tersebut sebetulnya hanyalah kalimat ringan yang ternyata memberikan dampak tidak biasa bagi wanita. Oleh sebab itu, Anda harus menjaga diri Anda agar tidak terpengaruh ujaran tersebut. Simak beberapa ujaran dan bagaimana cara menanggapinya.


"Jangan menikah!"

Apabila ada yang berkata seperti ini kepada Anda, jangan pernah Anda dengarkan! Mungkin mereka hanya tidak ingin melihat Anda bahagia. Ketika Anda dihadapkan dengan perkataan seperti ini, tetap berikan tanggapan yang positif. Alih-alih menunjukkan kemarahan Anda, sampaikan kepada mereka bahwa Anda sangat bersemangat untuk menikah dan tidak sabar untuk menunjukkan kepada dunia betapa besar cinta yang Anda dan pasangan Anda miliki. Anda juga bisa menambahkan bahwa banyak hal yang membuat Anda ingin segera bersatu dengan pasangan Anda.



"Dekorasinya yang bagus ya."

Hal ini acap kali didengar oleh calon pasangan pengantin ketika sedang mengurus persiapan pernikahan. Menanggapi hal ini, Anda harus menyadari bahwa setiap orang mempunyai selera yang berbeda, begitu pula untuk masalah dekorasi. Yang akan menjalani prosesi pernikahan ini adalah Anda bersama pasangan. Oleh sebab itu, dekorasi yang digunakan haruslah dekorasi yang Anda berdua sukai.



"Menikah ya? Bikin repot!"

Mengurus segala hal tentang pernikahan memang rumit, menguras tenaga, dan menguras perhatian banyak pihak. Kemungkinan besar pernikahan Anda nantinya akan dianggap sebagai suatu hal yang cukup merepotkan. Penentuan tanggal yang tidak pas dengan kondisi beberapa anggota keluarga lainnya juga bisa menimbulkan masalah baru. Intinya, jangan sampai membuat anggota keluarga lain merasa tidak nyaman dengan diadakannya pernikahan Anda. Kalau memang mereka tidak bisa hadir dalam acara pernikahan Anda, jangan menunjukkan sikap yang kurang sopan.



"Pernikahan selalu mahal."

Banyak sekali hal yang harus Anda tebus untuk sebuah pernikahan. Souvenir, pakaian, harga cincin, katering, sewa gedung, biaya bulan madu, dan lain sebagainya adalah contoh beberapa hal yang paling tidak harus Anda masukkan ke dalam daftar biaya pernikahan. Bersiaplah menghadapi pertanyaan seputar berapa jumlah uang yang Anda habiskan untuk pernikahan Anda. Jawablah dengan bijak dan ramah karena ini pertanyaan yang lumrah dilontarkan menjelang sebuah prosesi pernikahan.


Bagi Anda yang masih saja pusing dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan tidak mengenakkan terkait pernikahan, kuncinya adalah tetap sabar dan ramah ketika menjawabnya. Bagaimanapun, pertanyaan itu hanyalah pertanyaan sesaat atau bahkan hanya pertanyaan iseng yang mendadak terlintas di benak mereka. Jangan jadikan ini alasan untuk membuat mood menikah Anda berkurang ya.


Sumber : Vemale

Banyak pasangan yang berusaha mempersiapkan mental, psikologis, atau ekonomi, sebelum memutuskan untuk melanjutkan hubungan ke jenjang perni...

Jangan Lupakan Status Gizi Saat Akan Menikah



Banyak pasangan yang berusaha mempersiapkan mental, psikologis, atau ekonomi, sebelum memutuskan untuk melanjutkan hubungan ke jenjang pernikahan. Kemudian setelah rencana pernikahan ditetapkan, dengan penuh kesadaran mereka menjalani tes kesehatan pranikah. Sayangnya, yang mereka persiapkan hanyalah seputar masalah kesehatan reproduksi saja.

"Jarang sekali orang yang memperhatikan, terutama untuk si pria, apakah calon istrinya sudah memiliki status gizi yang baik atau belum," ujar dr Saptawati Bardosono, spesialis gizi klinik sekaligus dosen Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.


Status gizi yang baik sebenarnya sangat diperlukan jika pasangan ini berniat untuk memiliki anak. Untuk memiliki anak yang sehat dan bergizi baik, orangtua bertugas untuk memperhatikan kecukupan gizi dalam dirinya terlebih dulu sejak sebelum menikah. Jika gizi ibu yang mencukupi, setelah menikah sang ibu sudah memiliki bekal yang cukup untuk mempersiapkan kehamilan, dan berlanjut ketika menjalani kehamilan dan menyusui.

"Kecukupan gizi ibu akan membuat ibu menjadi lebih sehat dan lebih siap secara medis untuk memiliki anak dalam rahim, dan memiliki anak yang sehat dalam kandungan sampai lahirnya," tukas perempuan yang disapa Tati ini, dalam acara Obrolan Langsat "Tango Peduli Gizi" di Rumah Langsat, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, beberapa waktu lalu.

Selain sangat berpengaruh selama masa mempersiapkan kehamilan, status gizi ibu yang baik juga akan sangat berpengaruh saat ia menyusui anak-anak. Ketika anak berada dalam kandungan, lahir dan menyusu, anak akan menyerap sari-sari makanan, gizi, dan vitamin dari sang ibu. Maka status gizi ibu yang baik akan membantu anak-anak mendapatkan gizi yang baik, sampai akhirnya mereka bisa mendapatkan asupan gizi dari makanannya sendiri.

"Faktor-faktor luar seperti ekonomi inilah yang kemudian akan berpengaruh dalam status gizi anak selanjutnya ketika mereka sudah bisa makan sendiri," bebernya.

Sumber : kompas.com

Menikah menjadi cara mulia pemenuhan kebutuhan individu akan mitra hidup. Saat pasangan memutuskan berkomitmen menikah, keduanya punya tugas...

Menikah Tak Sekadar Butuh Komitmen


Menikah menjadi cara mulia pemenuhan kebutuhan individu akan mitra hidup. Saat pasangan memutuskan berkomitmen menikah, keduanya punya tugas dan tanggung jawab yang sama, bermitra membina hubungan agar selalu harmonis sepanjang hidupnya. Pasangan suami istri (pasutri) punya andil yang sama dalam mengupayakan sikap saling menghargai, percaya, passion, romantisme, intimasi untuk menjaga dan memelihara komitmen seumur hidup.

Psikolog Keluarga dan Perkawinan, Ratih Ibrahim mengatakan setiap orang butuh mitra hidup. Relasi mulia kemudian tercipta saat komitmen disepakati pasangan, dengan rasa penghargaan, percaya dan memiliki segitiga cinta. Segitiga cinta, konsep yang digelontorkan Sternberg menyebutkan pasangan membutuhkan passion, intimasi dan komitmen.

Untuk itu, kata Ratih, pasangan perlu memiliki cinta, prioritas, dan komunikasi. "Passion bisa memudar, sehingga tak ada lagi intimasi. Misalnya tak punya perasaan apa-apa saat lihat suami, atau saat mendengar nama istri disebut, kalau sudah seperti ini sulit untuk menjaga komitmen. Apalagi dengan waktu yang terbatas untuk membina hubungan," jelas Ratih saat bincang-bincang di sela peluncuran kampanye "Nikmatnya SariWangi, Hangatkan Malammu!" Di Jakarta, Rabu (1/2/2012).

Jangan sepelekan komunikasi
Salah satu cara untuk menggairahkan kembali hubungan seperti ini (hilangnya passion dan intimasi), adalah romantisme. Caranya, Anda dan dia harus berupaya menciptakan kembali romantisme dalam hubungan ini. Menghadirkan cinta dalam hubungan harus dibantu dengan komunikasi dan menjadikan pasangan Anda sebagai prioritas.

"Komunikasi penting untuk menjaga romantisme, karena kita bukan makhluk telepatis. Cinta harus diungkapkan untuk menciptakan romantisme. Dan jadikan prioritas Anda adalah pasangan sejati Anda sendiri," saran Ratih.

Komunikasi pasutri dibangun dari pertautan hati, obrolan yang nyambung, suasana rileks yang diciptakan bersama. Semua hal ini perlu diupayakan oleh Anda dan dia. Meski sibuk, meluangkan waktu berdua untuk memupuk kebersamaan, romantisme dan intimasi inilah yang akhirnya menguatkan komitmen hubungan pasutri. "Dengan intimqasi, relasi akan lebih solid dan kuat," jelas Ratih menyebutkan, komunikasi sebagai ujung tombaknya tal harus selalu verbal namun juga dengan bahasa tubuh.

Menurut ratih, komunikasi dengan pasangan dapat dilakukan kapan saja. Saat pagi hari di tengah kesibukan menjalani tugas dan rutinitas di rumah dan saat bersiap bekerja, komunikasi efektif bisa dilakukan untuk menjaga intimasi. Sekadar bilang "I Love You" kepada pasangan sambil bersiap berangkat kerja, misalnya. Komunikasi yang lebih mengarah kepada romantisme bisa pasangan lakukan di malam hari sebelum tidur. Meski lelah sepulang beraktivitas, sempatkan waktu berduaan di malam hari. "Hangatkan suasana dengan segelas cokelat panas atau teh, untuk memulai menciptakan intimasi," sarannya.

Ragam cara bisa Anda pilih untuk menjaga kualitas hubungan pasutri. Kuncinya, kesadaran dan kemauan kuat dari dalam diri, baik pada suami dan istri, untuk mengupayakan komunikasi, intimasi dan pada akhirnya memperkuat komitmen sehingga pernikahan langgeng dan harmonis bertahun-tahun lamanya.

Sumber : kompas.com

Banyak mitos tentang pernikahan yang dipercaya dapat membawa kebahagiaan. Mitos tersebut terkadang menimbulkan ekspektasi yang tinggi...

Mitos Keliru Seputar Pernikahan


Banyak mitos tentang pernikahan yang dipercaya dapat membawa kebahagiaan. Mitos tersebut terkadang menimbulkan ekspektasi yang tinggi bagi mayoritas orang yang merencanakan pernikahan. Padahal, belum tentu mitos itu benar dan yang terjadi malah sebaliknya. Berikut 5 mitos seputar pernikahan yang sebaiknya tidak perlu Anda hiraukan, seperti yang dilansir Times of India.


1. Pernikahan dapat Membuat Anda Tak Kesepian Lagi
Banyak sekali pasangan yang membenarkan mitos tersebut. Mereka menganggap bahwa dalam pernikahan, semua hal akan dijalani dan ditanggung berdua. Jika sedang dirundung masalah di kantor atau dengan keluarga, mereka menganggap akan ada pasangan yang menemani sehingga mereka tidak akan kesepian. Nyatanya, beberapa wanita saat ini tetap merasa kesepian meskipun mereka telah menikah. Bagi Anda yang kesepian dan merasa bahwa pernikahan merupakan solusinya, Anda perlu berpikir dan mengidentifikasi lebih jauh tentang mitos tersebut. Menikahlah karena Anda memang ingin dan siap.

2. Dapat Melakukan Hubungan Seksual Kapan Saja
Hasrat seksual dan frekuensi Anda untuk melakukan hubungan seks tergantung dari libido masing-masing. Selain itu, gairah seksual bisa saja berkurang seiring bertambahnya waktu. Pasangan yang terus-menerus bertengkar satu sama lain tentu tidak mendapatkan kepuasan seks yang cukup. Jika Anda berpikir bahwa pernikahan dapat selalu memuaskan hasrat seksual, tidak sepenuhnya benar. Ada kalanya pasangan tidak bisa bercinta karena sudah terlalu lelah akibat pekerjaan menumpuk, sibuk mengurus anak atau waktu yang sangat terbatas. Menikah adalah hal yang rumit, bukan sekadar cara untuk melegalkan hubungan seksual.

3. Wanita Tidak Perlu Bekerja Setelah Menikah
Mitos ini cenderung kurang realistis. Dewasa ini, sesuai dengan tuntutan berbagai kebutuhan yang harus dipenuhi, tampaknya sangat lumrah apabila wanita juga harus memiliki pekerjaan sendiri. Memiliki suami bukan berarti keadaan finansial Anda akan membaik sehingga semua kebutuhan yang sesuai dengan gaya hidup dapat terpenuhi. Pasangan Anda juga mungkin akan terbebani dan sedikit keberatan jika ia dituntut untuk memenuhi semua kebutuhan Anda.

4. Memiliki Keluarga Besar yang Bahagia
Semua orang yang berencana menikah pasti juga ingin memenangkan hati mertua dan keluarga besar si pasangan. Mereka memiliki ekspektasi dan bahkan mereka yakin bahwa keluarga pasangan akan menyayangi dan mencintai mereka layaknya keluarga sendiri. Nyatanya, keadaan yang ada bisa saja jauh dari ekspektasi. Konflik, perbedaan pendapat dan prinsip pasti akan mewarnai setiap keluarga besar. Berikanlah cinta dan perhatian bagi keluarga besar pasangan Anda, tapi jangan terlalu berharap banyak.

5. Anak Akan Memperkuat Ikatan Pernikahan
Banyak yang menganggap bahwa anak dapat memperkuat kualitas pernikahan dan meredakan konflik yang terjadi pada pasangan yang telah menikah. Namun, tidak jarang yang terjadi adalah sebaliknya. Bahkan, penelitian yang dilakukan oleh Brian Doss, PdD dari Texas A&M University dan Galena Rhoades, PhD, Scott Stanley, PhD, serta Howard Mark, PhD, dari University of Denver menunjukkan bahwa kepuasaan pernikahan lebih cepat menurun pada pasangan yang telah memiliki anak.

Jadi, sebelum memutuskan untuk cepat memiliki anak dengan alasan agar pernikahan dapat menjadi lebih bahagia, sebaiknya pertimbangkan matang-matang aspek lain. Apakah Anda berdua memang menginginkan adanya anak sekarang juga? Sudah siapkah Anda dan pasangan untuk memiliki anak?

Sumber : wolipop.com